Showing posts with label Sex. Show all posts
Showing posts with label Sex. Show all posts

Saturday, July 6, 2019

Teman Hiper Sexxx Gadis Bellia

Teman Hiper Sexxx Gadis Bellia


Cerita Sexs – Hubungan kami berawal dari dimuatnya surat pembacaku, ketika aku masih mahasiswa, di suatu surat kabar yang beroplah nasional tentang kesulitan mengirim surat ke luar negeri. Seminggu kemudian datang surat kepadaku mengomentari suratku dan menceritakan hal yang sama dengan yang kualami. Ia mengatakan hobinya juga surat-menyurat (korespondensi) dan mengajak bertukar hobi denganku.Semenjak itu kami rajin saling berkirim surat. Walaupun belum pernah saling ketemu, karena saling pandai menyusun kata-kata, kami serasa sudah akrab.

Amelia, sahabat penaku itu, waktu itu bekerja sebagai asisten apoteker di kota Cikampek. Ia memang lahir di situ, ayahnya mempunyai penggilingan beras. Seperti lazimnya pengusaha di kota kecil, ayahnya keturunan Cina. Ia sulung dari 6 bersaudara dan akhirnya aku juga akrab dengan keluarganya akibat sering main ke sana kalau liburan. Ia lebih tua 1 tahun dariku. Waktu itu aku sendiri punya pacar di fakultas dan Lia beberapa mempunyai “teman dekat”, seperti diceritakannya kepadaku lewat surat-suratnya.

Tiga tahun setelah kami akrab, ia pindah ke Jakarta dan diserahi pekerjaan mengelola apotik di daerah Jakarta Barat. Waktu itu aku sendiri sudah selesai kuliah dan mulai mencari pekerjaan di ibukota. Hubunganku dengannya sudah cukup akrab. Beberapa kali aku menginap di rumah kostnya. Ia kos bersama adik laki-laki tertuanya, yang kuliah di salah satu fakultas kedokteran. Waktu itu ia sedang pacaran dengan seorang bule, John, karyawan suatu perusahaan Belgia. Aku, John, Lia dan Erik (adiknya), sering berjalan bersama. Waktu itu aku sendiri juga bekerja di daerah Jakarta Barat dan kos di dekat camer (calon mertua). Pacarku sendiri sedang kuliah di Gajah Mada, Yogya.

Sampai akhirnya si John meninggal dunia, karena kecelakaan pesawat ketika sedang pulang ke Belgia. Ayah Lia waktu itu sedang masuk RS dan aku setiap malam menunggui, bergantian berdua dengan Erik atau dengan Lia, sampai juga meninggal setelah 10 hari dirawat. Kesedihan karena ditinggal si John dan ayahnya, membuat Lia memintaku banyak mendampinginya. Kalau selesai bekerja, kalau Erik sibuk kuliah, Lia memintaku menjemput ke apotik. Kalau ia dinas malam, aku biasa menungguinya sebelum ia selesai bekerja. Sering aku dan Erik (kalau sudah pulang kuliah), menunggui berdua lalu pulang bertiga. Semua teman kerja dan induk semang kosnya sudah mengenalku semua. Dan di antara kami semuanya berjalan biasa saja. Amelia ini tinggi badannya lumayan, ada 5 cm di atas tinggi badanku. Jadi orang pasti tidak mengira kalau kami sedang pacaran. Lia tahu mengenai pacarku di Yogya.

Walaupun demikian, kedekatan kami lama-lama membuat adanya “rasa lain”. Kami biasa menonton berdua kalau Lia pulang sore. Dia juga biasa jalan bergayut di lenganku, itupun kalau bertiga dengan Erik. Sore itu, hari Sabtu, ia pulang jam 2 dari apotik. Erik sedang pulang ke Cikampek dan ia kelihatannya sedang sedih (“Aku ingat John”, katanya), maka tangannya tak mau lepas dari lenganku. Kesedihan itu dibawanya masuk gedung, selama film ia menyandarkan kepalanya di bahuku. Spontan, kalau ia terdengar mengeluh sedikit, aku mengelus-elus kepalanya.

Setelah beberapa saat, tiba-tiba saja, aku sudah menciumi pipinya. Ia mengeluh lirih dan merangkulku sambil mulutnya bergeser mencari bibirku. Kami berpagutan bibir cukup lama, ia seakan sedang menumpahkan semua beban pikirannya kepada pagutan bibir-bibir kami. Aku betul-betul terhanyut, tetapi masih dapat “menjaga kesopanan” dengan hanya memegangi pipinya saja. Di taksi pulang ia diam saja. Hanya pegangan di lenganku semakin bertambah erat.

Sampai di kosnya, ia memintaku masuk kamarnya. Tante kos sudah kenal baik denganku dan aku memang biasa masuk kamar mereka. Hanya saja kali ini ia langsung memelukku dan mengulangi kembali pagutan di bibirku. Aku sedikit bingung, sebelum kemudian memutuskan untuk mengikuti keinginannya.

Kupeluk erat-erat ia yang sedang duduk di pinggir tempat tidur. Aku duduk di sampingnya sambil memegangi kedua pipinya. Otomatis, saking serunya ciuman kami, Lia akhirnya terdorong ke belakang dan posisinya menjadi tertidur. Tiba-tiba saja tanganku sudah pindah ke dadanya dan dari luar (ia masih memakai bajunya) mengelus payudara sebelah kanannya. Lia melenguh (bukan hanya mengeluh!) dan tangan kirinya menaikkan posisi kaos yang dipakainya.

Lalu aku sudah menggenggam payudara kanannya tanpa halangan apa-apa. Wow…, tak begitu besar, tetapi putihnya mulus. Aku mengelus payudaranya sambil sekali-kali memijit bundaran di bawah ujung putingnya. Lia seakan kesetanan, ia langsung melepas kaos yang dipakainya. Dadanya telanjang dan…..

Aku tak dapat lagi menahan diri. Sejenak kuteliti wanita di hadapanku ini. Lehernya putih, anak-anak rambut yang menggerai di sekeliling lehernya membuat penisku mengejang. Bahunya yang pualam menyangga mulutnya yang sedikit menganga dan mengeluarkan desis lirih yang memburu. Matanya terpejam. Rok bawahnya masih terikat, tetapi pantatnya sudah membuat gerak memutar-mutar sedikit.

Lalu kutelusuri lehernya. Tanganku turun ke arah payudara kanannya. Ia menempelkan badan erat-erat ke badanku. Kuputar telapakku di payudara kanannya. Ia mengelinjang. Ketika tanganku pindah ke payudara sebelah kiri, gelinjangannya bertambah dan tangannya langsung ke bawah badanku, mencari sela-sela pahaku. Ketika aku mulai menjilati puting susunya, tangannya menerobos ritsleting celanaku dan…, aku sedikit menggelinjang ketika ia mulai menggenggam penisku.

Kedua tangannya berusaha menurunkan celana dalamku, tetapi masih sulit karena celana panjangku masih bertengger di sana. Sementara itu mulutku mulai mengulum puting susunya bergantian. Dilepaskannya penisku dan, karena kegelian dan merasa nikmat, ia merengkuh kepalaku, ditariknya ke arah puting susunya. Lalu tiba-tiba didorongnya badanku, sambil nafasnya terburu, dilepaskannya rok yang masih dipakainya. Lalu tanganku diraihnya, dimasukkannya ke dalam CD-nya. Pelan-pelan kuelus bulu vaginanya. Wah, lebat betul. Dari sekian wanita yang pernah “kutelanjangi”, baru kali itu aku melihat pubis (rambut vagina) yang demikian lebat. Lebat, panjang, ketat. Hitam bukan main.

Kuelus-elus bulu vaginanya, kugelitik-gelitik rambut-rambutnya mencari lubang vaginanya. Tidak mudah ketemu, tetapi sudah basah karena air nikmatnya sudah keluar. Lia sendiri membantuku dengan menekan-nekan tanganku yang di permukaan vaginanya.
“Euuuhh…, eeuuuhh..”, gelinjangnya. Lalu, tak sabar, diturunkannya CD-nya yang sudah di pahanya. Telanjang bulatlah ia.

Gila, putihnya! Pantatnya yang bulat, yang biasanya kupegangi (dari luar) kalau ia lagi bergelayut di lenganku, betul-betul indah. Pinggulnya apalagi. Penisku langsung berdiri menegang melihat itu semua dan mengantisipasi “tugas lanjutannya”. Kugosok-gosokkan ujung hidungku ke pinggul itu, pelan-pelan kujilati memutar menuju ke pantatnya yang indah. Kuremas-remas bulatan pantatnya, sambil kugesek-gesekkan ujung hidungku terus. Harum baunya, harum sekali. Penisku yang tegang bergerak-gerak terus.

Ia tak sabar, dipegangnya tanganku, dibimbingnya untuk kembali menusuk-nusuk vaginanya. Ia sendiri seakan kesetanan menunggu lubang vaginanya dimasuki jari-jariku. Tetapi aku kembali berkonsentrasi pada puting susunya. Kujilat, kuelus memakai lidah, kusedot pelan-pelan sambil ia melenguh-lenguh dan menggelinjang-gelinjang. Akhirnya ia sudah tak sabar lagi. Tangannya mulai menurunkan celana panjangku. CD-ku langsung dipelorotnya ke bawah. Lalu tangannya menggenggam-genggam penisku.

Aku serasa melayang. Sebagai laki-laki, selama ini kalau ia bergayut di lenganku sambil berjalan-jalan, aku sering membayangkan tangannya yang putih dengan jari-jarinya yang panjang mengelus-elus penisku. Atau kujilati puting susunya yang sering membayang kalau ia memakai baju tipis. Hanya, selama itu aku hanya berani membayangkan, karena aku menghormatinya sebagai rekan akrab. Rupanya sore itu lain.

Ia langsung membalik, mengarahkan mulutnya ke penisku. Lalu tanpa basa-basi di kulum penisku. Aku sendiri langsung meneroboskan muka ke arah vaginanya. Tanganku memisahkan rambut-rambut di situ dan kulihat clitorisnya sudah kelihatan di luar. Kugosok-gosok perlahan permukaan clitorisnya. Lia menggelinjang-gelinjang. Kujilati clitorisnya sambil kuisap-isap.

“Ouww Wied…,. ouw Wwwiieedddd”, lenguhnya, “Terusss.., teruuuss”, lenguhnya dalam. Isapannya di penisku melemah akhirnya. Kupikir ia sudah selesai. Tiba-tiba, ia membalikkan badan lagi dan langsung berbaring di atasku. Penisku dipegangnya dan dicoba dimasukkannya ke dalam vaginanya yang sudah sangat basah. Rasanya oouw, ketika kepala penisku mulai masuk. Aku yang kegelian hampir tak tahan. Maklum, waktu itu penisku baru punya jam terbang yang dapat dihitung dengan jari, dan karena masih muda, jarang memakai “pendahuluan” yang cukup lama. Biasanya kalau keduanya sudah tegang (kalau main dengan cewek lain), lalu langsung kumasukkan, ejakulasi sama-sama dan kucabut. Ini lain. Dengan Lia permainan permulaannya sudah seru duluan! (Buatku waktu itu, ketika aku “belum berpengalaman”!)

Betul, saking gelinya, aku yang di bawah sampai mengangkat kepala tak tahan geli dan mau bangkit. Pas saat itu, kepalaku dipegang Lia, dibawanya ke payudara sebelah kiri. Melihat ada gumpalan daging kenyal putih menantang, langsung kujilati dan kuisap-isap. Baru sebentar, Lia mengerang, “Ohh…, Wied…, Lia nyampeee”.
Gile, baru sebentar ia sudah nyampe!
“Kamu belum apa-apa, ya?”, tanyanya sambil menciumi mulutku. Aku diam tak bisa menjawab karena mulutnya menyerang sana-sini.
“Gantian Lia di bawah, deh, biar kamu juga nyampe!”.

Ia membalikkan badan. Melihat sekilas badannya yang indah dan putih itu, penisku terasa nikmat-nikmat nyeri, rasanya ada yang akan mengalir keluar dari ujung penisku. “Gile, aku udah mau keluar…”, pikirku. Betul, ketika aku baru tiga kali memompa, spermaku keluar. Kupeluk erat-erat badannya, ia juga memegangi pantatku erat-erat sambil berbisik, “Masukkan semua, Wied…, masukkan semua..”. Kutekan erat-erat penisku ke dalam vagina bidadariku ini, kumasukkan semua benih hidupku ke dalam jaringan tubuhnya.

Ketika aku mau berguling ke sebelah badannya, dilarangnya aku. Ia ingin aku tetap di atas tubuhnya, dengan penisku masih di dalam vaginanya. Kunikmati saat itu dengan mempermainkan dagunya, menjilati payudaranya dan menggesek-gesekkan penisku ke dalam vaginanya. Ia tetap menciumiku. Penisku sendiri tetap tegang di dalam vaginanya.

Lima menit kemudian nafsunya bangkit lagi. Ia mengerang pelan, sambil menggoyang-goyangkan pantat. “Lia nafsu lagi, nihh”, erangnya. Penisku sendiri yang tadi sempat sedikit mengecil menjadi besar kegelian tergesek-gesek permukaan dalam vaginanya. Lalu…, “Uuuuuuhh..” Bibir vaginanya seakan memijat penisku. Aku merasa penisku kegelian, geli-geli nikmat sampai seakan-akan badanku meronta-ronta di atas badan Lia. Lia sendiri terangsang dengan gerakanku, memelukku erat-erat sambil keras menggoyangkan pantatnya memutar.

Dalam 20 menit kemudian, 2 kali lagi ia mengalami orgasme. Gila, pikirku. Pijatan vaginanya membuatku seakan melayang ke surga, tetapi aku sendiri baru sempat orgasme sekali. Lalu ia mulai melemas seakan tak berdaya. Habis itu lalu terjadi “perkosaan”. Aku tidak tahan lagi. Lia kugulingkan ke sana ke mari menuruti nafsuku. Kadang kucabut penisku dari vaginanya, kumasukkan ke dalam mulutnya, lalu kucabut dan kugesekkan di antara lembah tetek-teteknya, lalu kumasukkan mulutnya lagi, lalu kumasukkan ke dalam vaginanya. Aku orgasme 2 kali lagi. Sekali di mulutnya, sekali di ujung vaginanya (dasar belum pengalaman, karena kegelian digesek bulu vaginanya, begitu penisku sampai di ujung vaginanya langsung keluar spermaku). Lia sendiri pasrah saja kuperlakukan seperti itu. Ia seakan sudah tidak berdaya. Kugulingkan ikut saja, kusuruh mengulum penisku yang basah mau saja, mengurut-urut kepala penis di dadanya juga ikut, membantu memasukkan penisku ke vaginanya juga turut saja.

Ketika kami berdua sudah tidak berdaya lagi, kulihat jam. Dua setengah jam sudah berlalu sejak kami masuk ke kamar itu. Akhirnya kami tak kuat lagi dan terkapar kepayahan. Mata terpejam rapat, kelihatannya ia lelah sekali dan mengantuk berat.

Aku bangkit dan barulah tercium bau sperma bercampur keringat di kamar itu. Lia sendiri sudah tidak berdaya lagi. Ia sudah tergeletak begitu saja telanjang bulat. Kuselimuti badannya dan aku mulai memunguti pakaianku yang terserak di sana-sini. Kusemprotkan Bayfresh ke dinding-dinding kamar untuk mengurangi bau “mesum” itu. Untung Erik sedang pulang ke Cikampek. Kucium dahi Lia, kututup pintu kamar dan aku pamit ke tante kos.

Esoknya aku datang lagi. Hari Minggu ini Lia mengaku sakit kepada tante kos dan minta, “Si Wied ngerawat saya, ya tante”. Jadinya kami berdua berbulan madu di kamarnya sepanjang hari. Dan terjadi perkosaan lagi, yang ternyata disenanginya.

Dalam perjalanan pulang aku berpikir bahwa hubungan kami sudah berubah. Kalau selama ini aku menganggap dia sebagai kakak, karena lebih tua 1 tahun, lagi pula ia lebih tinggi dibandingkan badanku, malam ini hal itu sudah berubah. Kakakku sayang itu telah membuatku merindukannya sebagai orang lain (Kalau aku boleh berterus-terang: aku akan merindukannya untuk merasakan vaginanya yang sangat basah dibelah penisku, untuk kudekap ketika ia telanjang bulat-bulat, untuk menggeser-geserkan ujung hidungku di permukaan vaginanya yang hitam, lebat dan merangsang itu, untuk genggaman baik tangan maupun mulutnya bagi penisku yang tegang)

Wednesday, October 31, 2018

Cerita Seks Bercinta Dengan Ibu Kandungku

Nih guys kali ini klikdewasa akan mengulas tentang Cerita Seks Bercinta Dengan Ibu Kandungku, yang tak kalah serunya dengan kumpulan cerita-cerita yang lain nih guys. Dan dijamin bisa buat barang-barang anda semua becek-becek gimana gitu deh. Yuk disimak dan selamat menikmati cerita-cerita yang sudah kami rangkai berikut ini.

Cerita Seks Bercinta Dengan Ibu Kandungku
Cerita Seks Bercinta Dengan Ibu Kandungku

Cerita Seks Bercinta Dengan Ibu Kandungku

Cerita Seks - Nama saya Johan, umur saya 16 tahun dan saya tinggal hanya berdua dengan Mama yang berumur 30 tahun. Sewaktu masih pacaran secara tidak sengaja Papaku menghamili Mamaku dan mereka memutuskan untuk menikah secepatnya (MBA). Dari yang Mama ceritakan kepadaku, Papaku adalah seorang yang sangat penuh kasih sayang dan membanggakan tetapi Papaku telah meninggal dunia disaat saya masih bayi dan menjadikan Mamaku sebagai orang tua tunggal untuk ku. Mamaku melakukan pekerjaan yang baik jika memang menurut dia baik, tetapi pekerjaannya sebagai guru SD tidak bisa cukup untuk memenuhi kebutuhan kami berdua.

Kami berdua dibuat sangat kuat karena keadaan tersebut, kami membeli satu kamar tidur di sebuah peternakan seseorang yang letaknya diluar kota, kamar tidur tersebut memang kecil, tapi setelah kami pikir kamar tersebut terasa nyaman. Segala kebutuhanku mengenai materi dan harta yang tidak bisa dipenuhi oleh Mamaku, dia sampaikan kepadaku dengan penuh kasih sayang, sehingga membuatku mengerti. Dia tidak pernah keluar malam, ke pesta, diskotik (clubbing), semenjak saya lahir, karena dia tidak mau meninggalkan saya seorang diri dirumah.

Sama seperti bagian dalamnya, bagian luar Mamaku pun terlihat sangat baik, ramah, sopan dan cantik. Meskipun Mamaku mempunyai kepribadian seperti seorang Biarawati, dia juga terlihat sebagai ”BINTANG FILM PORNO”! Lebih tepatnya Mamaku sangatlah cantik dan menawan. Dia adalah wanita yang sungguh-sungguh menjadi impian seorang anak laki-laki untuk mimpi basah. Mamaku mempunya tinggi badan 167 cm dengan berat badan yang sangat proporsional, bisa dibayangkan pasti sangat sexy.

Dia sangat bahenol dengan rambutnya yang pirang panjang tergerai sangat natural, dengan warna kulit yang sempurna sedikit putih kecoklatan. Tampamg wajahnya yang sangat menarik, dengan bola mata besar berwarna biru yang sangat terlihat ke Ibu-an, leher yang jenjang dan ramping, dan disempurnakan dengan ukuran buah dadanya 36D. Dan perut yang sangat langsing ditambah kaki panjangnya yang sangat sexy. Tetapi yang sangat menggemaskan adalah pantatnya yang sangat sexy. Penampilan sexy-nya akan membuat anda mengira Mamaku adalah wanita Latin 100%.

Pantatnya besar, tetapi sangat padat, anda bisa membayangkannya jika anda melihatnya langsung dan membayangkan meremasnya dengan sangat lembut, itupun jika anda tahan untuk meremasnya dengan pelan. Untuk merawat kecantikan tubuhnya, Mamaku adalah wanita yang suka fitnes, senam aerobic. Setiap hari setelah jam kerja dia jogging ke tempat fitnes sejauh 2 km dan sesampainya disana dia selalu terus memain-main kecantikan tubuhnya, dari paha, pantat, perut dan lengan agar terlihat tetap sexy. Kegiatan berlatih fitnes inilah yang membuat tubuh Mamaku terlihat tanpa ada cela atau bisa dikatakan sempurna disetiap kondisi.

Sesuatu yang kami tunggu-tunggu yang dari pekerjaan Mamaku sebagai Seorang Guru adalah liburan musim panas dan kami selalu menghabiskan liburan musim panas bersama. Meskipun sudah lama saya mengetahui Mama saya adalah wanita yang cantik, tetapi baru liburan musim panas kali ini saya mempunyai perasaan ketertarikan sexual terhadap Mamaku sendiri. Mungkin karena diriku selalu bertemu dengan Mama dirumah setiap hari, atau mungkin saja saya baru menginjak umur pubertas seorang remaja laki-laki. Lain kata, nafsu saya untuk berhubungan sex dengan Mama sangat besar dan didukung dengan liburan musim panas yang sangat panjang.

Suatu hari disaat Mama pergi ke tempat fitnes, aku membuat rencana agar bisa lebih dekat dengan Mama. Seperti yang saya katakan sebelumnya, kami hanya mempunyai satu kamar tidur, tapi Mama membeli dua buah tempat tidur yang berukuran sedang agar kami bisa tidur bersama dengan lega tetapi berbeda tempat tidur. Dengan suatu rencana, aku masuk ke dalam kamar dan mematahkan satu tempat tidur dengan meloncat diatasnya dan sekarang aku bisa tidur satu ranjang dengan Mama. Lalu Mama pulang dalam keadaan capek seperti biasa dia habis pulang dari tempat fitness.

Mam, aku tidak sengaja merusak tempat tidur ku” kataku

“Gimana caranya, koq bisa kamu patahkan, Sayang ?” tanya Mama binggung.


Aku tidak tahu Mam, ketika aku berbaring dan tiba-tiba Krakk.., tempat tidur itu patah” jawabku berbohong karena ini sebagian dari rencanaku.


Ooo gitu, yasudah tidak apa-apa, mungkin karena sudah tua juga Tempat tidurnya” jawab Mama tanpa curiga.


“Tapi kamu gak apa-apa kan Sayang, ada yang sakit ?” tanya Mama khawatir.


“Aku sehat-sehat aja Mam, gak ada yang sakit kok” jawabku sekenanya.


“Syukurlah kalau begitu, tetapi kita belum ada uang untuk mengganti tempat tidur yang baru, berarti untuk sementara waktu kita harus tidur bersama di satu tempat tidur”


Mama mengatakan hal tersebut, dengan sedikit malu dengan rona merah di pipinya.


“Gapapa Mam, kita bisa mempergunakan uang tersebut untuk hal yang lebih penting” jawabku dan hati bersorak meneriakkan “Yess… Berhasil !”


“Terima kasih Jo Sayang, untuk pengertian mu” Mama terlihat senang.


“Gapapa Mam, sepertinya Mama terlihat sangat cape, mau Jo dipijitin ?”


“Wow, itu ide yang cemerlang sayang, tunggu ya Mama mandi dulu, mama gak mau kamu jadi kena keringat Mama“

Saya masuk ke kamar dan menyalakan TV sambil menunggu Mama mandi. Saya menyalakan TV dengan suatu alasan agar saya bisa nonton TV sewaktu saya melakukan pijatan kepada Mama dan sewaktu Mama tidur saat dipijat. Sambil menunggu Mama selesai mandi saya membayangkan hal-hal yang sangat merangsang pikiran saya dan akhirnya Penis saya menjadi keras. Setelah menunggu beberapa saat, Mama keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan Kimono dan dia terlihat sangat menakjubkan.

“Langsung berbaring aja Mam di tempat tidur selanjutnya biar aku yang urus”

“Oh… sayang kamu manis sekali sih mau ngelakuin ini ke Mama, mijitin Mama gini, Terima kasih lho Sayang”.


Dia mengatakan hal itu sambil menengkurapkan tubuhnya di atas ranjang.


“Gapapa Mam, cuman itu kok yang bisa aku lakukan buat Mama”

Aku langsung berada diatasnya dan mulai memasukan tangan kedalam kimononya melalui pundaknya. Dan Seperti yang saya harapkan dia sudah tidak mengenakan Bra. Itu menandakan Mama sudah sepenuhnya telanjang di balik kimononya !! Aku mulai menurunkan secara perlahan-lahan kimononya dari pundaknya dan mulai memijit pundak serta punggungungnya. Bisa dikatakan, membelai atau mengosok punggungnya secara halus.

“Oooh… itu enak sekali sayang,” desah Mama kepadaku.

Setelah beberapa menit kuturunan tangan-ku dengan memasukannya lebih dalam kebawah hingga ke pinggangnya dan mulai memijat pinggang belakangnya yang sangat ramping. Kimononya sudah ku buka perlahan-lahan kuturunkan sambil aku memijit punggung bawah di bagian pinggang belakang. Dari belakangnya aku bisa melihat dua buah payudara mamaku dari samping yang tergencet tempat tidur, karena dia tidur tengkurap. Payudara Mama terlihat sangat padat dan sangat montok dan aku sangat ingin sekali meremasnya.

Lalu aku mulai memijat bagian samping perut Mama dan mulai menyelipkan tangan ku ke perut depan dan mulai meminyakinya selagi dia masih dalam keadaan tengkurap. Karena memang nafsuku yang sudah sangat tak tertahankan, maka aku mulai mengelus dan sudah bukan memijat. Aku telusuri pinggangnya lalu ketulang rusuknya sampai akhirnya aku dapat merasakan buah dadanya dari samping dan pada saat itu aku belai dan sedikit aku tekan.


“Uuuchhh… ini sangat hebat”, dan aku sangat amat terangsang sehingga penisku sudah sangat tegang sekali.

Terima kasih sayang, cukup untuk hari ini. Mama mau bersih-bersih lalu berpakaian dan bersiap untuk tidur,” dengan cepat dia bangun dan meninggalkan ruangan.

“Aduh sial, dia udah tidak mau dipijit lagi, kamu terlalu berhasrat Johan, sabarlah” Kataku dalam hati.

Mungkin ternyata Mama tahu niat-ku yang berusaha merabanya untuk melampiaskan birahiku kepadanya. Maka dari itu dia langsung bangun dari tempat tidur dan pergi dari ku. Sedangkan aku sudah tegang dan penisku sudah sangat menegang.

Beberapa menit kemudian Mama keluar dari kamar mandi dengan memakai T-shirt dan celana pendek.

Sejak kejadian tadi, aku tertangkap basah ingin merabanya, aku tidak berani untuk melakukan hal yang tidak pantas seperti menyentuhnya. Kami naik ke tempat tidur dan mulai untuk tidur dengan membelakangi satu sama lain. Aku tetap terjaga selama satu jam dan terus terbayang tubuh Mamaku, dimana setelah semua kejadian tadi aku tidur satu tempat tidur dengan Dewi dari Khayangan yang sangat cantik dan sexy yang berada di sebelahku dengan jarak yang sangat dekat tidak sampai satu meter !! “Uuuchhh…” Penisku tidak berhenti Berkedut !!

Setelah beberapa jam dan aku mengetahui Mama sudah tertidur, aku mulai mengumpulkan keberanian. Aku memberanikan diri untuk membalikkan badanku sehingga sekarang aku berhadapan dengan punggung Mama. Dengan sangat perlahan-lahan dan sangat hati-hati aku mulai menggapai celana pendek Mama dan mulai menariknya secara perlahan kebawah sedikit demi sedikit, agar Mama tidak terbangun dari tidurnya.

“Sialan”, Dia memakai Celana dalam, aku berpikir Mama tidak memakai celana dalam atau karena mau tidur. Aku berharap dia memakai celana dalam yang longgar, kecil dan tipis ternyata dia memakai celana dalam yang menurutku cukup ketat dan sangat tertutup. Aku mencoba menurunkan celana dalam itu pelan dan perlahan tapi sangat susah dan terhalang dan terganjal pantatnya yang cukup besar.

Tapi aku tidak kehabisan akal, aku melakukan upaya lain dengan cara menarik agak keras tapi sangat perlahan dan dengan sedikit goyangan yang lembut agar si Mama tidak terbangun dari tidurnya. Dengan keadaan celana dan celana dalam Mama yang sudah ku turunkan sedikit dan terlihat Pantatnya yang sangat montok, padat, dan berisi dengan sangat lega aku melihat kearah Mama dan berpikir dia masih tetap tertidur sangat lelap.

Dengan sangat hati-hati dan dengan memperhatikan kelembutan, aku colek salah satu dari sepasang pantat Mama yang sangat sexy itu dengan jariku untuk mengetahui Mama terbangun atau tidak. Aku melakukan colekan ini beberapa kali dalam beberapa menit, sebelum aku memulai untuk meremas-remas dan meraba kedua pantat Mamaku yang montok, padat berisi dan sangat sexy itu. Penisku sudah sangat keras dan rasanya ingin memberontak keluar dari celana. Akibat remasan-remasan dan rabaan tersebut, aku merasakan bahwa Penisku mulai membujukku untuk melakukan remasan tersebut lebih keras lagi dan lagi dan lagi. Karena remasan ku yang terlalu keras dan terlalu bernafsu, Mamapun mengerang,

“Hmmmm……” aku kaget setengah mati dan aku melihat tangan Mama mulai bergerak.

Aku berhenti melakukan remasan tetapi aku tidak memindahkan tanganku dari pantat mama, karena aku berpikir jika aku pindahkan maka dia akan benar-benar terbangun dan mengetahui bahwa anaknya sedang meraba pantatnya dan mungkin mama akan berpikir bahwa celananya turun secara tidak sengaja akibat gerakan dari tidurnya. Tapi lebih di kagetkan lagi bahwa ternyata Mamaku, menarik keatas lagi celana dalamnya dan celananya untuk kembali menutupi pantatnya yang bahenol itu dan dia kembali tidur, dengan keadaan sekarang tanganku berada di dalam celananya dengan posisi memegang pantatnya.

“Uuuccchhh……”, dalam hati aku berbicara dengan degupan Jantung yang semakin menggema.

Dengan kejadian itu, berarti si Mama setengah tidur atau tidak sepenuhnya terbangun dan yang perlu diketahui dengan keadaan tanganku di dalam celananya sama saja tidak ada yang menghalangi tanganku untuk meraba pantatnya. Setelah beberapa saat diam, aku mulai meraba dan meremas pantatnya dengan sangat lembut walau tidak terlihat jelas tapi aku merasakan hal yang sangat menakjubkan. Lalu aku mulai memberanikan diri untuk membelah pantatnya denga jari-jariku dan mulai menyusupkan jariku kedalam belahan bongkahan pantatnya dan jariku menemukan suatu lipatan yang berbentuk seperti lingkaran.

”Hmmm…ini lubang anus Mama”, kataku dalam hati.


Dan aku mulai melakukan gerakan jariku dengan mengosok lubang anusnya dengan lembut dan melakukan gerakan memutar jariku di bibir anusnya.

Lalu terdengar suara rintihan mengerang dari mama.

”Mmmmm…..sssshhhhh….”, yang menurut aku itu adalah desahan keenakan dengan sangat kaget aku langsung menarik tanganku keluar dari celananya dan pura-pura tidur. Dan Mama benar2 terbangun.


“Johan, apakah itu tadi kamu sayang ?”

Dengan penuh ketakutan saya, tetap berpura-pura tidur dan tidak menjawab pertanyaannya.

Saya membayangkan pertanyaannya tadi, bahwa dia sebenarnya ingin mengatakan, ”Johan kenapa kau hentikan, ayo teruskan sayang. Sebenarnya aku juga Ingin bersetubuh.”

Lalu dia kembali tidur, setelah melihat aku tidur dan kali ini kami tidur denga posisi berhadap hadapan.


Pertanyaan yang keluar dari mulut Mama tadi sangat mengangetkan diriku. Selama hidupku aku belum pernah sama sekali mendengar Mama berbicara dan melontarkan pernyataan tentang sex atau yang berbau sex. Dan pernyataan itu membuatku benar-benar terangsang sampai dengan beberapa saat dan setelah saya yakin Mama sudah kembali terlelap tidur. Saya mulai beraksi kembali dengan mulai memasukan tangan saya kedalam t-shirtnya melalui celah baju bagian perut dan langsung mengarah ke bagian Payudaranya yang juga sangat padat, kencang dan montok. Aksi ku kali ini untuk mengetahui apakah Mama memakai BH atau tidak. Sekarang aku sudah mulai berani untuk menggerayanginya semenjak pernyataan Mama tadi dan pernyataan tersebut memmbuatku semakin menggila dan sangat bernafsu kepadanya.

“Arghh.. ternyata Mama memakai BH-nya”, kesalku dalam hati.

Lalu aku mulai menggeser tanganku yang berada di dalam bajunya secara perlahan kearah punggung untuk mencari kancing BH-nya. Aku menemukan kancingnya dan aku segera membukanya dengan sangat perlahan.

“Klik” terlepaslah pengait BH Mama sekarang.


Setelah terbuka aku langsung mengarahkan tanganku ke depan bagian payudaranya, walaupun tidak sepenuhnya terbuka tetapi setidaknya sudah longgar dan tanganku bebas untuk meremas payudaranya. Aku mulai meremas payudaranya yang telanjang dibalik remasan tanganku secara lembut dan mulai memainkan salah satu putingnya.


“Sssshhhh….” Mama memang benar-benar sangat sexy dan montok.


Aku merasakan darahku berdesir seperti dalam kegairahan yang sangat besar. Ternyata Mama mulai menyadari remasan ku terhadap payudaranya dan dia kembali terbangun. Kali ini aku tidak mempunyai kesempatan untuk memindahkan tanganku atau menarik keluar tanganku dari dalam bajunya, tetapi aku tetap pura-pura tidur dengan mengorok pelan.

“Hmmmm…. kasihan anakku sayang ini, pasti dia sedang bermimpi basah tentang gadis yang dia suka, lebih baik aku berpura-pura tidur saja, kalau aku bangunkan, pasti dia malu” kata Mama tidak menaruh curiga.

Lalu Mama kembali tidur dengan membalikkan badannya memunggungiku. Yang membuatku terkejut dia tidak memindahkan tanganku dari Payudaranya. Melainkan dia tetap membiarkan tanganku di payudaranya dan membiarkan tanganku membelai lembut payudaranya. Dan aku pun melanjutkan remasan-remasan lembut di Payudaranya sampai pada akhirnya, kami tertidur lelap dan benar-benar mengantuk.

Jangan Lupa Baca Juga : Cerita Dewasa Percintaanku Dengan Pacar Kakakku

Pagi harinya ketika aku bangun, Mama sudah tidak ada di sampingku. Aku bangun beranjak dari tempat tidur dan menemukan sepucuk surat dari Mama, yang bertuliskan :

“Johan sayang, hari ini Mama pergi ke Sekolah, untuk mengajar hari terakhir sebelum liburan musim panas, setelah itu Mama akan pergi ke tempat fitnes seperti biasa. Itu dilemari es ada Pizza untuk sarapan, mama akan kembali kerumah jam 8 malam nanti, Muach. -Mama-“

Aku mulai mengingat kejadian semalam, kejadian terindah dan terhebat yang pernah aku alami didalam hidupku. Hal yang terbaik adalah aku bisa menyentuh, meraba bagian tubuh Mama dengan bebas dan sepertinya Mama pun tidak menghalangiku untuk melakukan hal itu. Mungkin saja dia percaya kepadaku bahwa aku memang sedang bermimpi basah di usiaku yang sedang puber atau memang sebenarnya Mama pun dari lubuk hatinya juga menginginkannya. Aku sangat ingin mempraktekan teori-teoriku terhadap Mama. Dimana saat dia pulang nanti, aku akan menawarkan kepadanya untuk memijatnya satu badan penuh dan melihat apa yang akan terjadi padanya jika dia ku pijat seluruh Badannya, apakah dia akan terangsang ?

Aku menghabiskan siang itu dengan menonton TV dan melakukan beberapa pekerjaan tapi tetap saja aku menghayal jika aku berhubungan sex dengan Mama. Tapi dengan menghayal seperti itu, aku tetap tidak mau beronani aku mau menyimpan spermakuuntuk Mamaku tercinta. Sekalian untuk berjaga-jaga, siapa tahu nantinya Mama akan sangat terangsang dengan pijitanku dan mau berhubungan Sex denganku. Waktu berjalan terasa sangat lambat hari itu dan membuatku teramat sangat menderita menahan nafsu terhadap Mamaku. Aku menghitung mundur waktu, jam demi jam, menit demi menit, detik demi detik sebelum Mama sampai kerumah. Akhirnya Pintu rumah terbuka dari luar pada jam 8.30 Malam dan ternyata itu Mama.

“Malam Sayang, maaf agak terlambat pulang tadi aku mampir ke sebentar ke Toko”.

“Hai Mam, Oooh gapapa Mam… Hmmm… sepertinya Mama mengalami hari yang sangat panjang dan Mama terlihat sangat lelah mau aku pijitin lagi Mam ?”


Langsung saja aku katakan kata-kata ini untuk merealisasikan teori-teoriku dan juga aku katakan hal ini sebelum kata-kata ini terdengar sebagai ungkapan yang putus asa.

“Uuummm… Ok sayang

Nadanya terdengar lebih berhati-hati dari nada suaranya kemarin, ketika aku tawarkan dia untuk memijit.

Mendengar nada bicaranya yang lebih berhati-hati, aku mencoba untuk tetap tenang dan santai saja dengan tidak menunjukan kegairahan terhadapnya. Lalu aku langsung membalas kata persetujuannya untuk dipijat.

“Mam, nanti dipijatnya gak usah pakai apa-apa ya, telanjang aja, Mama Lepas semua pakaian Mama di kamar mandi, terus Mama masuk sini langsung telanjang aja jadi aku bisa dengan mudah Mijitin seluruh badan Mama”.

“David, itu sangat tidak pantas, masa Mama harus telanjang di depan kamu” Mamaku menyahutku dengan nada yang agak keras.

“Mama jadi aneh sama kamu dan Mama mulai berpikir, kenapa kamu sepertinya senang dan tertarik sekali untuk hal pijit memijit ? Sudahlah, gak usah pijit Mama, tidak dipijit pun Mama akan baik-baik saja” dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya.

“Jangan, Jangan Mam Ayo dong Pliss…, biarkan aku memijat Mama.” Aku mengatakan itu kepada Mama dengan penuh harapan dan keputus asaan, serta merayunya.

“Maaf Ma, aku pikir dengan keadaan telanjang, Mama akan merasa lebih nyaman untuk dipijat. Yasudah Mam, Mama pakai saja pakaian yang Mama suka tapi aku merasa harus tetap memijit Mama. Karena Mama telah berbuat banyak kepadaku dengan penuh kasih sayang aku merasa berhutang kepada Mama” rayuan ku kepada Mama.

“Iya sayang, iya… Mama mandi dulu ya, sehabis itu baru kamu pijitin Mama… Hmm…Manja sekali kamu David”.

Setelah mendengar rayuanku, akhirnya Mama melunak dan kembali tersenyum kepadaku. Setelah menunggu selama 15 Menit, akhirnya Mama keluar dari kamar mandi dengan menggunakan Kimononya seperti biasa. Aku ingin sekali menanyakan kepada Mama, apakah dia memakai pakaian dalam di balik Kimononya, tetapi akhirnya aku tahu lebih baik untuk tidak mengetahuinya.

“Ok Mam, berbaringlah, aku akan memberikan pijatan yang lama dan nyaman ke badan Mama dan aku juga akan memijat dari kaki Mama, karena Mama berlari cukup jauh aku gak mau Mama mengalami naik betis”.

“Uummm Ok… Tapi kamu mijatnya tidak boleh lebih dari betis ya, hanya sebatas sampai bagian bawah Paha aja”, dengan nada suara yang cukup tinggi.

Mama mulai berbaring tengkurap dan menurunkan kimononya sebatas pinggang.

“Sial, ternyata Mama memakai BH yang sangat ketat dan sangat tertutup” aku begumam di dalam hati.


Aku mulai memijatnya dari pundaknya, lalu naik ke leher dan turun ke punggung dan membiarkan Mama mulai merasa sangat nyaman di pijat dan terasa sangat relax. Sebelum aku mengatakan, sesuatu untuk bisa mendapatkannya.

“Mam, Tali BH-nya menghalangi pijatan di Punggung, kira-kira Mama mau melepaskan kancingnya atau tidak ?”

“Tentu saja Sayang, buka saja…” Dia mengatakan dengan penuh kenyamanan.

Pijitanku sudah benar-benar membuat Mama sangat nyaman dan yang pastinya karena Mama merasa sangat nyaman pertahanannya pun jadi hilang sedikit demi sedikit. Aku melepas kaitan BH-nya dan menyuruh agar Mama sedikit mengangkat tubuhnya dan bergeser agar aku bisa melepaskan seluruh BH-nya dan bukan hanya melepas kancing / kaitan BH-nya. Setelah berhasil melepas secara keseluruhan BH, langsung saja aku lemparkan BH-nya ke lantai. Ternyata karena perbuatanku melepas BH-nya dia merasa aneh dan mengatakan :

“Kenapa dilepas semua Johan ? tadi katanya hanya mau melepas kaitan kancingnya saja, kenapa sekarang kamu lepas semua ?” dengan nada suara datar.

“Oiya Mam, kenapa aku lepas semua ya, Uummmm… tapi yasudah lah Mam ditaro di lantai saja, aku agak susah untuk mengambilnya kembali”.

Mama tidak mengatakan sepatah katapun, aku berpikir ini adalah sebuah kata ”Ya” dari Mama dan aku tetap melanjutkan pijatanku. Sekarang aku memulai untuk memijat kakinya perlahan-lahan naik dan semakin keatas. Dengan cepat aku berpindah sampai akhirnya memijat melewati betisnya menggulung kimononya. Sedikit lebih keatas dan dengan tepat dan cepat memijat bagian atas kakinya yang terlihat memang sangat sehat dan menggairahkan. Aku pijat semakin keatas sambil aku naikkan semakin keatas kimononya dan sekarang aku lepas kimononya dari tubuhnya dan meletakan kimono itu disebelahnya. Dan sekali lagi Mama tidak mengatakan apa-apa terdiam membisu.

Ternyata hari ini Mama tidak menggunakan celana dalam yang sangat tertutup dan ketat, dia mengenakan celana dalam model tali tapi tidak terlalu tipis lebih tepatnya Mama memakai celana dalam thong warna hitam. Celana dalam thong itu benar-benar memperlihatkan bentuk keindahan pantatnya yang sangat bulat, padat, montok, sexy dan terlihat sangat Bahenol. Aku tidak bisa menahan dan membendung gairah ini, aku memulai memijat lebih tepatnya meraba secara keras pantat Mamaku yang terasa sangat halus di telapak tanganku sehalus pipi Bayi.

“Jangan…jang..an…pijat disitu sayang” dengan pandangan agak melamun dan dengan nada suara yang datar.

Aku mendengarkan perkataannya dan memindahkan tanganku ke punggungnya yang ramping dan mulai membelainya. Dengan belaianku Mama mulai mendengkur dengan dengkuran yang sangat menikmati. Nafsuku sudah mulai tidak terbendung lagi aku membuka kaosku dan terlihatlah tubuhku yang atletis dan dengan perlahan aku mulai berada diatasnya dengan berlutut dan dengan tubuh Mama berada di bawahku. Aku mulai mengendus rambut mama, punggung dan bagian tubuhnya yang sangat bahenol dengan hidungku. Dan mulai menggerakan bibirku keatas dan kebawah di punggungnya dengan sedikit hembusan nafas sambil sedikit mengecup punggungnya dan memberi sedikit kecupan di leher.

Dan dia kembali mendengkur dan mencoba bertahan melawan nafsu yang memang telah menyerangnya. Aku kembali menciumi punggungnya sampai akhirnya aku mengarah ke bawah dan mendapatkan pantatnya kucium kedua pantatnya dengan lembut satu persatu yang memang memancing gairah dengan balutan celana dalam thong-nya. Aku singkapkan celana dalamnya dengan gigiku dan terlihatlah bongkahan pantat yang sangat menggairahkan. Aku mulai meremas pantatnya satu persatu dan membuka pantatnya sehingga terlihatlah lubang anus Mamaku dan akupun tidak sungkan untuk menjilatnya, kujilat dengan lidahku mengikuti bibir lubang anus itu secara melingkar perlahan dan sangat lembut.

Lalu Mama mulai mengeluarkan desahan dan merintih nikmat seperti kemarin malam waktu aku raba anusnya dengan jariku. Tetapi kali ini erangannya lebih membuatku semakin bernafsu. Saat ini dia mengetahui apa yang tidak dia bayangkan sebelumnya terjadi.

“Ssshhhhhh… aakhhhh… hmmm… Ooohh Johan sayang… Terusss… sayang” Mamaku mengerang dengan hebatnya.

Setelah Mama mengerang dan sangat bernafsu aku sengaja berpindah dari jilatan di lubang anusnya dengan melanjutkan mencium lehernya. Ternyata Mama membalikan badannya yang sebelumnya memunggungi aku dan aku langsung menjilat, menciumi lehernya dan langsung mencium bibirnya. Setelah dengan lembut mencium dan mengecup bibirnya, Mama mulai membuka mulutnya dan kami berciuman sangat penuh dengan gairah dan nafsu biarahi yang memang sudah sangat tidak bisa dibendung lagi.

Sambil berciuman aku mulai meraba putting susu payudara Mama dan membuat Mama semakin menggila dalam berciuman. Aku raba dengan jariku dan memainkan putting susunya dan membuat putting susu Mama semakin mengeras. Aku memindahkan mulutku ke Puting susu Mama sebelah kanan dan mulai menjilatnya menghisap dengan lembut tapi dengan penuh nafsu dan perlahan kuturunkan tanganku ke vagina Mama yang sudah sangat basah dengan lembut kusentuh vagina Mama dan mulai membelainya dengan penuh kelembutan.

“Ooooohhhh… Davie sayang… Aaaaakhhhh… ssshhhh… Mmmpffff… sayang, berhentilah menyiksaku sayang aku sudah tidak tahan lagi…”

Untuk sementara waktu dengan seketika aku membebaskan tanganku dari vagina Mama untuk melepas celanaku dan terlihatlah batang penisku yang memang sudah sangat mengeras dengan panjang 16cm dan berdiameter 3.5cm. Secara langsung Mama melihat batang penisku dan Mama sangat terkejut dengan itu.

“Oooo yesss… Davie… Masukin aja langsung ya sayang, Mama sudah lama sekali tidak merasakan penis ada di dalam vagina Mama…”

Mendengar Mamaku mengatakan hal itu dengan penuh nafsu dan kegilaan birahi yang sangat tinggi, aku pun sempat terpikir sejenak mengenai hal yang selama ini aku pikirkan akhirnya terjadi dan aku akan sangat menikmatinya.

“Mam, tapi kita gak punya kondom sama sekali”.

“Johan, cepat masukan penismu kedalam Vagina Mama sayang !”


“Tapi nanti jika Maammma…Hamil bagaimana ?”


“Tenang, besok pagi Mama akan meminum pil KB sayang, setiap pagi Mama selalu minum pada saat masa subur Mama, Jadi… MASUKAN PENISMU SEKARANG !!!” dengan nada berteriak.

Tidak perlu Mama bilang dua kali aku sudah memasukan penisku kedalam Vagina Mama dan mulai kupompa keluar masuk penisku di Vagina Mama. Vagina Mama terasa sangat sempit dan hangat dan rasanya seperti mengalami kegembiraan yang luar biasa bisa menyetubuhi Ibu Kandungku sendiri yang sangat cantik luar dalam. Sementara terus kupompa penisku sedalam-dalamnya ke vagina Mama, aku juga tidak berhenti menghisap dan menjilati payudara Mama dan kembali berciuman bibir dengan Mama dan sekali lagi kami berada di dalam gairah nafsu bercium yang sangat hebat.

Sementara penisku terpompa sangat hebat kedalam Vagina Mama. Tanganku juga tidak berhenti meremas payudaranya dan sesekali meraba bibir lubang anusnya dengan sedikit menggelitik kecil. Sementara cairan-cairan vagina mama sudah mulai membasahi mengalir ke anusnya akibat Pompa-an dari penisku.


“Oooohhh… ini enak sekali Mam, lebih dari nikmat… aarghhhh Mmmaaammm…..” aku terus memopa penisku sedalam dalamnya ke vagina Mama.


Dan akhirnya aku mengangkat Mama dan mendorongnya keatasku. Sekarang Mama berada diatasku dengan penis yang tetap menancap pada liang Vaginanya.

“Oooooohhhh… Johan… aakkkhhh… Sayang… Mama sudah tidak bisa tahan sayaang, Maammma keluar… Shhhhh… akkhhhhh” Mama berteriak, seketika itu juga mengalirlah cairan kewanitaan dari Vagina Mama.

“Ya Mam… aaakkhhh… Mam… hangat sekali… ssshhhh, aku juga bisa merasakanya Mam”.

Aku merasakan semprotan hangat cairan keawanitaannya di penisku dan itu teramat sangat nikmat dan cairan itu keluar melalui celah vaginanya yang terus kupompa dengan kencang dengan penisku.

“Ya ampun Davie…..Akkkhhh sayang, enak banget lho itu… Papamu pun belum pernah membuat Mama orgasme sampai seperti ini” kata Mama sambil berdiri dan berbaring di sebelahku dan sambil memperhatikan penisku yang masih ereksi dengan kerasnya.

“Oohh Johan, maaf sayang sory… kamu belum keluar, ya ampun sayang tapi tenang Mama ada cara… Hmmm… sekarang bangun !” dengan mengedipkan mata genitnya kearahku.

Mendengar perintah Mama akupun berdiri dan penisku pun tetap tegang dengan kerasnya. Mama berlutut di depanku saya tahu apa yang akan di perbuat Mama dan saya sebagai anak laki sangat gembira sekali karena memang ini juga yang saya tunggu. Mama mulai menciumi kepala penisku dengan bibirnya dengan sedikit jilatan nakal di batang penisku, lalu mama mulai memasukan penisku kedalam mulutnya dan megulumnya.

Aku melihat tatapan matanya yang berwarna biru kepadaku sewaktu dia mengulum penisku dan menatap wajahku. Tatapan bola matanya yang biru seakan akan berubah dari tatapan bola mata seorang wanita yang bersih dari dosa menjadi tatapan wanita nakal yang sedang gila dengan gairah nafsunya.


“Ooohhh… ini enak sekali Mam… sepertinya aku… Aaakhhh”.


“Mmmm… hmmmm… sshhh”

Aku merasakan kehangatan mulut Mama yang menjalar keseluruh tubuhku melalu penisku, Mama dengan ganasnya menghisap penisku dan mengocoknya dengan mulutnya. Aku hanya bisa berharap mudah-mudahan ini berlangsung lama. Tetapi tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang akan meledak dari penisku dan ternyata aku tidak bisa membendungnya lagi dan spermaku tersemprot kedalam mulut dan tenggorokan Mama.

“Aaaakkkk… yesss, Mam… uccchhh… Aduh, maaf Mam, aku udah gak tahan”

Mama menghisap seluruh sperma yang aku semprotkan kemulut dan tenggorokannya tanpa ada sisa sedikitpun.

“Hmmm… slurppp… Mmmm… aaahhh tidak apa-apa sayang… aaakkhhh, gimana enak ?”

“Luar biasa Mam… Fuiiihhhhh”

“Menurut Mama, orgasme kamu tadi sepertinya belum klimaks kan sayang ? “Ugghhh” kasian sayangku ini. Berarti Mama masih berhutang sama kamu ya kapan pun kamu mau bercinta bilang ya sama Mama ya Sayang…” Mama mengatakan sambil tersenyum nakal dan mengedipkan matanya.

Aku beristirahat sejenak setelah orgasme yang baru saja ku alami untuk memulihkan badanku yang pasti memulihkan libidoku terhadap Mama. Tapi pemandangan disebelahku yaitu si Mama yang masih tergeletak telanjang di ranjang membuatku kembali terangsang dan membuat penisku kembali mengeras. Aku meperhatikan kemolekkan Pantat Mama dan membayangkan usaha Mama untuk memuaskanku dan memompa Vaginanya sekuat mungkin agar penisku tertancap masuk lebih dalam lagi ke dalam Vaginanya.

Melihat Posisi Mama seperti ini membuat penisku keras kembali. Sebelumku tancapkan penisku ke Vagina Mama kali ini aku melihat Mama yang terlihat sangat sexy dan menggairahkan di segala posisi bercinta dan aku pikir aku menjadi penganggum setia kecantikan dan kesexyan Mama. Setelah kupandangi Mama langsung saja aku arahkan penisku ke Vagina Mama yang sudah agak kering. Aku gesek dengan penisku perlahan dan membuatnya basah kembali, walau tidak sebasah yang sebelumnya. Mamaku hanya tebaring tengkurap pasrah, dia pasrah tapi tetap menantangku.

Kali ini persetubuhanku dengan Mama, menurutku akan lebih memuaskanku dari persetubuhan sebelumnya, karena pantatnya yang montok itu akan menjadi bantalan untuk setiap tancapan demi tancapan yang akan kuberikan kepada Vagina Mama. Aku memegang dan agak mengangkat perut Mama yang sedang tengkurap agar Mama agak sedikit menungging dan kutegakkan punggungnya dengan memegang Payudaranya dan sekarang Mama sudah siap dengan posisi Doogie Style. Langsung aku tancapkan penisku ke dalam Vagina Mama yang belum terlalu Basah dan Mama berteriak.

Karena memang agak perih mungkin tetapi aku merasakan kenyamanan yang luar biasa dari sebuah Vagina yang sangat sempit dan menggigit. Tapi Mama pasrah saja, karena memang Mama merasa berhutang untuk membuatku orgasme. Saya pompa penisku secepat dan sedalam mungkin kedalam Vagina Mama dan payudaranya terlihat bergoyang sangat hebat dan hal itu membuatku semakin bernafsu dan bernafsu. Payudara yang sangat besar padat tetapi lunak dan saya masih tidak percaya bahwa payudaranya yang bergoyang itu membuat Mama terlihat seperti Pelacur yang alami dan menjadi pelacur pribadiku saat ini.

Aku setubuhi Mama lebih lama dari persetubuhan kami yang pertama saya berharap agar persetubuhan ini tak akan pernah berakhir sampai aku merasa Mama sepertinya orgasme untuk yang kedua kalinya dan itu memang benar. Karena dia mengatakan bahwa dirinya orgasme secara beturut-turut kali ini. Aku lepas penisku dari Vagina Mama dan aku baringkan Mama dalam keadaan terlentang dan aku masukan Lagi penisku dengan posisi aku diatas Mama dan akhirnya aku menyemprotkan Spermaku ke Dalam Vagina Mama dimana tempat dahulu aku dilahirkan yang mungkin tidak pernah anak laki-laki lain rasakan.

Mama ku langsung tumbang, karena sangat kecapean dan memejamkan matanya sejenak dan aku diam sejenak merasakan spermaku masuk semakin dalam ke vagina Mam, dan akhirnya tertumpah kembali keluar melalui celah Vagina Mama yang masih tertancap oleh Penisku.


“Oohh… ini sangat menakjubkan sayang” bisik mama di kupingku dan dia terlihat sangat letih.

“Terima kasih Mam, Jadi kita bisa melakukannya lagi setiap malam”


“Oh Johan Sayang, setiap malam dan setiap hari” kami Tertawa bersama.


“Wah… kalau begitu, Mama harus lebih sering Minum Pill KB di pagi hari !” kami kembali tertawa bersama.


“Ya… kamu benar sayang” Mama menjawab dengan sedikit termenung.

Tanpa kusadari ternyata Vagina Mama menjadi basah lagi dan tanpa kusadari Penisku sudah terpompa kembali oleh Vagina Mamaku. Dan kami melakukannya terus sampai akhirnya kami kelelahan dan tidur bersama dengan penis tetap tertancap di dalam vagina Mama.

Jangan Lupa Baca Juga : Cerita Mesum Perawan Gadis Club Malam

Nahh guys itu lah Cerita Seks Bercinta Dengan Ibu Kandungku. Ikuti terus postingan cerita dewasa kami yang selanjutnya ya guys.. Salam Crott Crott..

Tuesday, October 30, 2018

Cerita Mesum Perawan Gadis Club Malam

Nih guys kali ini klikdewasa akan mengulas tentang Cerita Dewasa Percintaanku Dengan Pacar Kakakku, yang tak kalah serunya dengan kumpulan cerita-cerita yang lain nih guys. Dan dijamin bisa buat barang-barang anda semua becek-becek gimana gitu deh. Yuk disimak dan selamat menikmati cerita-cerita yang sudah kami rangkai berikut ini.


Cerita Mesum Perawan Gadis Club Malam
Cerita Mesum Perawan Gadis Club Malam

Cerita Mesum Perawan Gadis Club Malam

Cerita Mesum - Sebelum aku melanjutkan cerita seks-ku ini, aku akan memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Aku Ridho (sebut saja begitu) aku memiliki wajah yang manis (kata istriku), dengan tinggi badan (-+) 175cm dan berat badan (-+)70kg. Aku sudah mempunyai kehidupan rumah tangga yang sangat bahagia, istriku cantik, sexy, dan selalu terlihat menggairahkan.

Dari pernikahan kami hingga kini, kami dikarunia seorang anak laki-laki yang sudah berumur 9 tahun dan seorang anak perempuan yang sudah berumur 4 tahun. Kami sekeluarga tergolong keluarga yang cukup berada dimana pekerjaanku adalah seorang pegawai negri dikota ku dan aku kebetulan mempunyai kedudukan dan jabatan yang lumayan. Dari pekerjaanku ini, aku sanggup memiliki rumah BTN dan mobil kijang walaupun masih credit. (oke langsung saja ke ceritanya).

Kisahku ini berawal dari keisenganku bermain-main api dalam hubungan yang hampir saja kehidupan rumah tanggaku tersapu dan dilalap oleh api hubungan. Aku sendiri tidak menyangka keisenganku bisa keterusan dan memberantakkan hubungan rumah tanggaku. Padahal keisenganku hanya mencoba bermain-main ke sebuah club malam malam. Disana terdapat sangat banyak gadis-gadis cantik berusia remaja dengan tingkah laku yang sangat menggoda imam dan hasrat. Pada dasarnya gadis-gadis ini datang ke club malam malam untuk mencari kesenangan, tapi tidak sedikit juga yang memang khusus untuk mencari pria hidung belang.

Pada saat pertama kalinya aku masuk tempat club malam, sejujurnya aku tertarik dengan seorang gadis yang ada disana. Gadis tersebut memiliki tubuh yang padat dan sintal, kulitnya putih bersih dengan paduan wajah yang putih dan cantik. Perkiraanku umur gadis itu tidak lebih dari 20 tahun dikarenakan dia memiliki wajah baby face. Aku ingin mendekatinya tetapi terdapat keraguan didalam hatiku maka dari itu aku hanya memandangi wajahnya sambil menikmati minuman ringan dan mendengarkan lagu-lagu dengan dentuman house music.

Tidak ku sangka-sangka sama sekali, ternyata gadis itu mengetahui bahwa aku daritadi memperhatikan dia. Dia kemudian tersenyum dan berjalan kearahku dan langsung duduk di sampingku tanpa permisi dan tanpa disuruh. Bahkan tanpa malu-malu dia berani meletakkan tangannya di atas pahaku. Tentu saja itu membuatku sangat terkejut dengan keberaniannya yang ku anggap sangat menakjubkan ini.

“Sendirian aja nih om ?” sapanya dengan senyuman menggoda.

“Eh iya…” sahutku agak gugup.

“Perlu teman om ?” dia langsung menawarkan diri.

Sontak aku kaget dan tidak bisa menjawab apapun dengan pertanyaannya itu. Sungguh aku tidak tahu kalau gadis ini sungguh sangat pandai dalam hal rayu-merayu. Sehingga aku tidak sanggup menolak ketika dia meminta untuk ditraktir minum. Meskipun baru saja berjumpa tanpa perkenalan dan tanpa basa-basi, sikapnya sudah begitu manja seakan-akan sudah lama mengenalku. Padahal baru malam ini aku datang ke club malam dan baru kali ini juga bertemu dengannya.

Awal-awal memang canggung tapi lama-kelamaan juga sudah terbiasa, bahkan aku mulai berani meraba dan meremas lembut pahanya. Tanpa kuduga di tidak menepiskan tanganku yang pada saat itu meraba dan meremas pahanya. Memang saat itu dia memakai rok pendek sehingga sebagian pahanya terbuka.

Sekitar pukul 01:00 aku baru pulang kerumah, sebenarnya aku tidak biasa pulang selarut ini. Tapi istriku tidak banyak bertanya dan tidak rewel ketika mengetahui aku pulang larut malam. Sepanjang malam itu aku sulit sekali untuk tidur, karena wajah gadis itu masih terngiang-ngiang didalam pikiranku. Manjanya, tingkah lakunya dan senyumnya itu membuatku seperti kembali kemasa remajaku, dimana banyak gadis-gadis cantik dan sexy yang dekat denganku.

Pada keesokkan harinya aku datang lagi ke club malam itu dan ternyata gadis itu juga datang kesana. Ini adalah pertemuan kedua antara aku dan dia, kali ini membuatku tidak lagi merasa canggung bahkan sekarang ini aku sudah berani mencium pipinya. Malam itu benar-benar membuatku lupa dengan anak dan istriku dirumah. Malam itu juga aku bersenang-senang dengan gadis yang seumuran dengan adikku sehingga membuatku pulang menjelang subuh.

Mungkin karena istriku tidak pernah bertanya dan juga tidak rewel, membuatku kerajingan pergi ke club malam itu. Setiap kali aku datang ke club malam itu pasti selalu gadis itu yang menemani aku duduk dan minum bersama. Dia menyebutkan namanya Nia, tidak tahu kebenaran namanya yang sesungguhnya dan aku sendiri tidak terlalu memperdulikan namanya. Karena menurutku ditempat seperti ini jarang sekali ada wanita yang menyebutkan nama aslinya kepada orang lain.

Tapi pada malam itu tidak seperti malam-malam kemarin, tiba-tiba Nia mengajak keluar meninggalkan club malam. Aku menurut saja dan kami berputar-putar mengelilingi kota jakarta dengan mobil kijangku. Tidak tahu kenapa, malam itu aku merasa sangat jenuh sehingga muncul pikiran isengku untuk membawa Nia kesebuah penginapan. Tanpa kuduga ternyata Nia tidak menolak ketika aku masuk ke halaman depan sebuah penginapan. Dia juga tidak menolak ketika aku membimbingnya masuk kedalam kamar yang sudah aku pesan kepada receptionistnya.

 Selagi mempunyai kesempatan keisenganku ini makin menjadi-jadi, langsungku pegang pinggangnya yang ramping. Jari-jariku bergerak menelusuri setiap lekukan tubuhnya yang padat, sexy, dan bohay itu. Tahap demi tahap tanpa membuang banyak waktu, aku turunkan wajahku menuju wajah dan lehernya, seketika itu juga kuhujani dengan ciuman-ciuman yang membangkitkan gairah sexualnya. Sesaat kemudian aku mendengarkan desahan-desahan kecil dan rintihan tertahan dari bibir mungil Nia pertanda kalau dia sudah diambang oleh gairah sexual yang sudah mengebu-gebu.

Jangan Lupa Baca Juga : Cerita Sex Bercinta Bersama Ibu Murid Les Private

Perlahan kubaringan tubuh sintal nan semoknya diatas ranjang perlahan-lahan dan dengan penuh kelembutan kulucuti pakaian Nia. Mulai dari kemeja tak berlengannya kulucuti dengan lembut kancing demi kancing hingga celana hotpantsnya yang sangat pendek, serta BH dan CD-nya turut kulucuti dengan kelembutan. Sehingga sekarang tubuhnya sudah telanjang tanpa sehelai benangpun yang membalut tubuhnya yang padat dan berisi.

Nia mendesis dan merintih pelan saat ujung lidahku yang basah dan hangat mulai menyapu dan mengelitik lehernya yang jenjang. Setelah puas menyapu dan mengelitik lehernya lahan-perlahan kuturunkan lidahku menuju bagian payudaranya yang sekal. Ku sapu dan kutelusuri setiap senti payudaranya, aku cukup lama bermain-main diarea puting payudaranya yang berwarna pink kecolaktan. Tanganku juga tidak kubiarin diam tanpa ada kerjaan, kuelus mulai dari payudaranya turun menuju ke pusar dan akhirnya mampir diselangkangannya yang berbulu halus. Seketika itu juga tubuhnya bergetar setelah jari-jariku memainkan klitorisnya yang sebesar kacang itu. Rasanya perlakuanku terhadap Nia sudah cukup membuat gairahnya berkobar-kobar dan mengelinjang seperti cacing kepanasan.

Secepat kilat langsung kutanggalkan semua pakaian yang masih melekat di badanku. Setelah tidak ada sehelai benangpun yang berada dibadanku, sesegera mungkin ku tuntun tangan halus Nia kearah penisku. Tidak tahu kenapa, tiba-tiba Nia langsung menatap wajahku saat jari-jari tangannya mengenggam batang penisku yang sudah bergirik tegak. Hanya sebentar jari-jari halus Nia mengenggam batang keperkasaanku ini dan kemudian melepaskannya kembali. Bahkan dia merapatkan pahanya seolah-olah menjaga pagar surga dunianya agar tidak dimasukki.

“Jangan… omm…” desah Nia tertahan ketika aku mencoba untuk membuka kembali lipatan pahanya.

“Kenapa ?” tanyaku sambil menciumi bagian belakang telinganya.

“Aku… hmm… aku…” Nia tidak bisa meneruskan kata-katanya.

Dia langsung memelukku dan menggigit bahuku sedikit keras, sehingga aku merasakan kesakitan. Ternyata dia tidak sanggup menahan gairah yang semakin besar menguasai seluruh tubuhnya. Saat itu Nia tidak bisa lagi menolak dan melawan gairahnya sendiri, sehingga sedikit demi sedikit lipatan pahanya yang menutupi pagar surga dunianya mulai melonggar. Tanpa melepaskan kesempatan ini, aku langsung menambah rangsangan padanya dengan mulai mencium bagian payudara turun keperutnya sambil tanganku perlahan merenggangkan paha putihnya. Setelah pahanya terbuka lebar, aku menatap tepat dibagian vaginanya yang tampak merekah dan melakukan jilatan-jilatan lembut pada vagina dan klitorisnya.

“Egghhh… Sshhh…” erang dan desahnya pelan.

Sekejap itu aku langsung menuntun batang keperkasaanku menuju vaginanya yang sudah merekah. Matanya langsung terpejam saat merasakan penisku yang keras dan hangat itu mencoba menyeruak masuk kedalam lobang vaginanya yang mulai membasah. Dia menggeliat-geliat sehingga membuat penisku jadi sulit untuk fokus menembus lobang vaginanya. Tapi aku terus berusaha, aku memeluk badannya dengan erat sehingga Nia saat itu tidak bisa leluasa menggerak-gerakan badannya. Saat itu juga aku menekan pinggulku dengan keras agar seranganku tidak gagal lagi.

Akhirnya kepala penisku berhasil masuk kedalam lian vagina Nia yang sempit. Aku langsung menghentakkan pinggulku dengan keras sehingga penisku melesak masuk kedalam liang vagina Nia.

“Aakkhhhh…” pekik Nia tertahan dan wajahnya disembunyikan dibahuku.

Ku tatap wajahnya yang cantik ternyata air matanya berlinang keluar menandakan kesedihan.

“Kamu kenapa nangis ?” tanyaku kepada Nia.

Dia hanya menggelengkan kepala pertanda tidak ada yang terjadi, tapi air matanya terus keluar dari matanya yang indah.

Seketika itu aku merasakan ada keanehan, lalu aku melihat kearah penis dan vaginanya. Ternyata darah segar mengalir keluar melalui vaginanya, segera mungkin langsung kucabut penisku dari vaginanya.

“Kamu masih perawan Nia ?” tanyaku lembut kepadanya.

Dia hanya menganggukan kepalanya pelan.

“Kenapa tidak bilang kepadaku dari awal Nia ?” tanyaku kepadanya dengan nada sedikit tinggi sambil ingin beranjak kekamar mandi.

Tapi dia malahan menahanku untuk tidak beranjak dari kasur.

“Gapapa om… kita lanjutkan saja, lagian semua sudah terjadi” katanya sambil tersenyum.

Mendengarkan hal itu hatiku lebih lega dan aku kembali menuntun penisku menuju lobang vaginanya kembali. Dengan perlahan aku masukkan kembali penisku kedalam vaginanya sambil menciumi bibirnya yang lembut agar dia tidak begitu merasakan sakit ketika penisku masuk kedalam vaginanya. Lalu kudiamkan penisku didalam vagina Nia dan memberi waktu untuk beradaptasi dengan adanya penisku didalam vaginanya.

Setelah melihat wajah Nia lebih tenang dan tidak tampak kesakitan lagi, akupun mulai memaju mundurkan penisku pada vaginanya. Tampaknya Nia sedang merasakan gairahnya sedang mengebu-gebu, karena sekarang Nia mulai mendesah dan mendesis seperti orang kesetanan.

“Ugghhh… Aahhh… Oughhh…” desahannya semakin keras.


Malam itu juga Nia menyerahkan keperawannya padaku tanpa ada unsur paksaan. Meskipun dia kemudian menangis setelah semuanya terjadi dan aku sendiri merasa menyesal karena aku tidak mungkin mengembalikan keperawanannya. Aku memandangi bercak-bercak darah yang mengotori sprei sambil memeluk tubuh Nia yang masih polos dan sesekali masih terdengar isak tangisnya.

“Maafkan aku Nia, aku tidak tahu kalau kamu masih perawan. Seharusnya kamu bilang sejak semula…” kataku mencoba menghibur.

Nia hanya diam saja dan dia melepaskan pelukanku dan turun dari pembaringan. Dia melangkah gontai kekamar mandi dan membuka air. Aku mengetahuinya karena terdengar suara air yang menghantam lantai didalam kamar mandi. Sedangkan aku masih duduk di ranjang ini sambil bersandar pada kepala pembaringan.

Aku menunggu sampai Nia keluar dari kamar mandi, tidak lama kemduian Nia keluar dengan tubuh terlilit handuk dan rambut yang basah. Aku terus memandanginya dengan berbagai perasaan berkecamuk di dalam dada. Bagaimanapun aku sudah merenggut kegadisannya dan itu terjadi tanpa dapat dicegah kembali. Nia duduk disisi pembaringan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk lain.

Aku memeluk pinggangnya dan menciumi tengkuk dan punggungnya yang putih dan halus. Nia menggeliat sedikit tapi tidak menolak ketika aku membawanya kembali berbaring di atas ranjang. Gairahku kembali bangkit saat handuk yang melilit tubuhnya terlepas dan terbentang pemandangan yang begitu menggairahkan. Setelah kulihat keindahan kedua belah payudaranya yang kencang dan montok serta keindahan dari bulu-bulu halus tipis yang menghiasi di sekitar vaginanya.

Secepat kilat aku kembali menghujani tubuhnya dengan kecupan-kecupan yang membangkitkan gairahnya. Nia merintih tertahan, menahan gejolak gairahnya yang mendadak saja terusik kembali.

“Pelan-pelan, omm… perih…” rintih Nia tertahan saat aku mulai kembali mendobrak benteng pagar surga dunianya untuk yang kedua kalinya.

Nia menyeringai dan merintih tertahan sambil mengigit-gigit bibir bawahnya sendiri saat aku sudah mulai menggerak-gerakan pinggulku dengan irama yang tetap dan teratur.

Perlahan tapi pasti Nia mulai mengimbangi gerakan tubuhku, sementara gerakan-gerakan yang kulakukan semakin liar dan tak terkendali. Beberapa kali Nia memekik tertahan dengan tubuh terguncang dan menggeletar bagai tersengat kenikmatan klimaks ribuan volt. Kali ini Nia mencapai puncak orgasme yang mungkin pertama kali baru dirasakannya.

Tubuhnya langsung lunglai di pembaringan dan aku merasakan kenikmatan denyutan-denyutan lembut dari dalam vaginanya Nia yang membuatku hilang kontrol dan tidak mampu menahan lagi permainan ini. Hingga akhirnya aku merasakan penisnya mulai berdenyut hebat disertai kenikmatan luar biasa saat cairan spermaku muncrat berhamburan di dalam liang vagina Nia.

Jangan Lupa Baca Juga : Cerita Dewasa Percintaanku Dengan Pacar Kakakku

Nahh guys itu lah Cerita Mesum Perawan Gadis Club Malam. Ikuti terus postingan cerita dewasa kami yang selanjutnya ya guys.. Salam Crott Crott..